Jumat, 18 Juli 2008
Gile!!!!!!!!!
Benar kata Bang Napi kejahatan bukan hanya karna niat, tetapi adanya kesempatan!!! jadi waspadalah waspadalah!!!
Gile
Temen g yang pengen mencari sesuatu untuk menghilangkan rasa lapar, diRAMPOK... Biadab...
ga tau apa, sesama manusia itu seharusnya saling tolong-menolong, bukannya saling menyengsarakan..
Gile
Yang ngerampok itu pengecut, ga punya nyali, masa beraninya keroyokan 4VS1 pake golok pula, coba kalo satu lawan satu, mana brani mereka??
Gile
Dasarnya sebagai Buddhis, temen g ga marah atau sedih. dia malah merelakan dan berkata "siapa tau mereka lebih memerlukan" ajaib bangetkan?? hari ge ne masih ada orang sebaik itu?? sifat Bodhisatvanya keluar...
Gile
Ngerampok kq sedikit-sedikit?? ngerampok kq sedikit-sedikit??
sedikit-sedikit kq ngerampok??
Gile
Mo nulis apa lagi ya??
Kamis, 17 Juli 2008
Akhirnya aku merasakan kejamnya kejahatan di Jakarta
Tiba-tiba seorang pemuda dengan memakai jaket switer hitam lengkap dengan kerudung yang menutupi kepala dengan muka yang ditutupi dengan cadar menghadang perjalananku dengan menodongkan pisau keleherku, langsung saja saya berhenti dengan pisau yang menempel dileherku.
”Berikan tas itu... cepat!” perintah pemuda itu, dan seketika itu juga dua orang dari samping memegang tangan saya dan satu orang mengalungkan pisau dileherku. Kini 4 orang telah memegangiku dengan acaman sebuah pisau di leher, sementara pemuda itu menarik tas yang masih melekat dipundakku dan akhirnya tali tas itu dipotong dengan pisau yang dia pegang.
”Sebentar saya lepaskan tasnya” para pemuda itu tak menghiraukan cara diplomatis saya, akhirnya saya dipaksa turun dari motor dan kalungan pisau dileherku pun lepas, sekejap langsung saya berteriak ”TOLONG...TOLONG...TOLONG...RAMPOK...RAMPOK..RAMPOK....” mereka panik dan terdengar seruan mereka ”TUSUK.....TUSUK...TUSUK” mendengar kata-kata itu langsung saya tersadar dan melihat sebuah pisau yang mengarah keperut saya, sekejap langsung saya pegang pisau itu dengan terus berteriak minta tolong. Akhirnya mereka berusaha membuang saya namun saya tersangkut sebatang kayu.
Ketika saya menoleh saya melihat salah satu dari mereka ingin menghidupkan motor, sekejap langsung saya terjang dia dan akhirnya mereka lari semua dengan membawa tas saya yang berisi HP GSM Nokia 6020 dan CDMA Nokia 2115, uang seniali 800.000, dompet yang berisi KTP, SIM, STNK, ATM, dan surat-surat penting. Menyadari motor saya selamat saya langsung mengambil kuncinya dan tersadar ternyata tangan kanan saya terluka tepat diantara telunjuk dan jempol berdarah dengan luka yang cukup serius karena terkena pisau yang saya pegang.
Akhirnya warga sekitar berdatangan dengan menyakan kondisi saya dan saya periksa badan saya leher aman, perut aman, tangan dan kaki saya berdarah. Lalu saya mengambil sandal dan helm yang tercecer.
Kembali aku perhatikan motor saya tidak apa-apa dan saya menemukan sebuah sarung pisau yang mereka gunakan. Yang terlintas saat itu dipikiran saya adalah saya harus laporan ke polsek tentang kejadian ini, saya meminta bantuan salah satu warga yang kebetulan saya kenal Eko namanya untuk mengantarkan saya pulang dengan ditemani teman Eko, Aris namanya. Langsung motor itu dipacu menuju pospol kapuk. Sampai di sana saya bilang ”pak mau buat surat laporan kehilangan” petugas pospol itu bilang sayavharus ke polsek cengkareng untuk buat surat laporan. Di pospol saya mendapat pertolongan pertama dari satu-satunya yang bertugas di pospol itu, pak Agus namanya. Tanganku yang luka dibalut dan diberi betadin, setelah selesai saya ucapkan terima kasih dan motorku melaku ke ruko Grisenda GE/26 dan menghampiri teman saya mas Ano, lansung saya menjelaskan kejadiannya. Lansung saya menghungi sahabat Niko memebritahukan hal ini, lalu saya telpon bos saya juga dia bilang yang penting berobat dulu.
Lalu saya putuskan untuk langsung ke polsek cengkarneng dan ke klinik untuk merawat luka saya.
Ketegangan di polsek cengkareng
Bersama mas Ano saya antar Eko dan Aris ke Kapuk dengan menggunakan mobil lostbak. Langsung saya menuju ke polsek cengkareng, sampai di sana saya dikerumuni beberapa polisi, dengan tergesa-gesa saya berbicara ”pak mau buat surat laporan kehilangan, saya dirampok.” langsung saja saya diintrograsi di mana?, kapan?, apa yang hilang?, berapa orang pelakunya?, apa ciri-cirinya?, ada yang meliahat kejadian itu? Pertanyaan tersebut menghujani saya dan salah satu polisi (mungkin komandan) langsung memerintahkan untuk sidak TKP dan saya langsung dibawa kwluar menuju mobil patoli, waduh.... TKP bingung deh saya bagaimana tidak kan saya cuma mau buat surat laporan kehilangan saja.
Saya tidak bisa berbicara apa-apa, akhirnya mas Ano berbicara ”Sudah pak tidak usah olah TKP, dia cuma mau buat surat laporan kehilangan saja” mendengan hal itu langsung saya tanggapi, ya pak yang penting saya minta surat laporan kehilangan, soal pelau biarlah tidak usah diurusi lagian saya juga mesti berobat. Akhirnya sidak TKP tidak jadi dan saya kembali ke dalam menunggu dibuatkan surat laporan kehilangan. Ah.... akhirnya jadi sudah ”ni suratnya, kamu langsung ke rumah sakit berobat.” pak polisi. Saya ucapkan terima kasih dan tentunya saya tidak bayar.
Di rumah sakit aku menggigil
Waktu sudah menunjukan pukul 24.00 WIB. Dalam perjalanan pulang menelusuri jalan Kapuk Raya akhirnya kita menemukan klinik kayu besar, aku masuk dan saya jelaskan luka saya. ”waduh ini mesti di bawa ke rumah sakit karena mesti dijahit di sini tidak ada alatnya” kata suster yang menerima saya. Waw rumash sakit? Bingunglah saya, mana cuma pegang duit 200.000 itu pun uang mas Ano yang dikasih bos. Akhirnya saya telepon bos, minta pinjaman untuk berobat ke rumah sakit dan akhirnya saya diberi ATM. Langsung saja saya diantar mas ano ke rumah sakit Cengkarng masuk ruangan UGD. Saya disambut oleh petugas dan langsung disuruh duduk di ranjang, langsung saja perban saya dibuka dan terlihat luka yang menganga dengan darah segar hem...... dalem juga ya seru saja.
Lalu luka saya dibersihkan pakai infus uh..... rasanya perih..... banget, dan masnya seakan-akan tidak melihat raut muka saya yang keskitan setiap kali luka itu diseka dengan perban yang dibasahi dengan infus. Saya benar-benar tidak kuat menahan sakitnya sampai badan saya menggigil. Di sisi lain datang seorang suster dengan membawa 2 buah jarum suntik, waduh penderitaan baru nih ucap saya. Jarum pertama sudah disuntikan yang berisi anti biotik, tinggal jarum kedua nih. Waktu disuntik lebih berasa sakitnya. Tubuhku semakin menggigil dan tak dapat saya kendalikan, akhirnya saya menarik nafas saya dalam-dalam dan kosentrasi ke nafas dan akhirnya saya bisa menguasai kembali tubuh saya.
Operasi yang meneggangkan
Kini tinggal proses terakhir yaitu penjahitan luka. Dok sakit gak? Dibius dulu ya dok? Tanya saya. Tanpa basa basi 2 jarum suntik berisi obat bius menancap di sekitar luka tanganku aku menjerik au..... kesakitan, langsung tanganku tak berasa apa-apa. Dimualailah proses penjahitan, jahitan pertama berasa sedikit sakit dan saya tidak berani melihat proses penjahitannya. Ah..... akhirnya selesai sudah dan saya perhatikan ternyata ada 3 jahitan di tangan saya. Huh...... nafas panjang ku helakan. Sudah ya dok? Tanya saya, sudah. Langsung saya turun dari ranjang dan menghampiri mas Ano yang sedang mengurusu administrasi. Eh... ternyata saya dipanggil lagi sama suster, dan mesti di suntik 1 kali lagi. Akhirnya selesai sudah semuanya.
Dan ketika pulang saya hanya bisa bialang semoga mereka dapat menggunakan barang-barang saya dengan bijak dan bermanfaat bagi mereka.
Terima kasih telah membaca cerita saya
In happy
witono
Rabu, 09 Juli 2008
Sahabat yang hilang
Dari masa bermain
SD, SMP, dan SMA
Waktu ku jalani bersamanya
Suka duka kita raskan bersama
Yang paling mengesankan adalah
Saat kita dapat lulus bersama di bangku SMA
Tapi seribu pertanyaan melintas di benakku
Apa yang akan ku lakukan selanjutnya
Apa yang akan kau lakukan selanjutnya
Waktu itu kebingungan menyelimuti kami
Ku putuskan tuk bertahan diperantauan ini
Menembus liku-liku ibu kota ini.
Tapi kau putuskan tuk pergi kembali ke tempat kita semasa kecil
Kini aku tak tau apa yang engkau lakukan di sana
Walau kau telah hilang dari keseharianku
Tapi kau tetap sahabatku