Terkadang saya berpikir perlukah sebuah negara? Dengan membentuk negara kita membentuk sebuah identitas, lalu identitas ini dibumbui dengan lagu kebangsaan, bendera, lambang kebangsaan dan lain-lain. Lalu sebagai penduduk sebuah negara kita wajib menghormati itu semua karena telah diperjuangkan dengan darah dan memakan ratusan nyawa katanya. Digembar-gemborkalah kesemua itu dengan cara-cara yang memberi kesan heroik, hasilnya yang namanya “nasionalisme” tertanam ke dalam jiwa, yaitu cinta negara. Alhasil “identitas” telah terbentuk dan siaplah kita dibuat mempertahankan identitas itu dengan nyawa lagi, sebagaimana yang telah terpatri di pikiran kita.
Identitas ini seringkali membawa masalah karena harus berhadapan dengan identitas “yang lain”. Identitas ini juga terkadang menjelma dalam bentuk warna kulit, bahasa, budaya, dan sebagainya. Masalahnya kita sering kali melihat cara-cara ofensif yang dipakai orang ramai ketika bertemu dengan “yang lain”. Kita harus menunjukkan bahwa “Saya(kami?) lebih baik”, "lebih unggul”, “lebih beradab”, “lebih suci”, “lebih bijak” dan berbagai macam dari “yang lain” ini. Coba perhatikan, bahkan kita harus menunjukkan “lebih suci” dan “lebih bijak” dari “yang lain” yang akhirnya menurunkan derajat dari kata “suci” dan “bijak” itu sendiri. Suatu ketika Presiden AS George W. Bush mengatakan,”Kita harus menjaga perdamaian dengan memerangi tiga serangkai penjahat ini (axis of evil, yang dimaksud adalah Korea Utara, Iran, dan Kuba).” Bayangkan sebuah kata “perdamaian” harus demikian ternodanya dengan kebencian yang dikobarkan dan saya kuatir pada akhirnya kita harus percaya bahwa kata “perdamaian” atau “suci” memang harus ada kekerasan terkandung di dalamnya. Ya, mungkin kita sudah percaya.
Apa hasil dari mengikuti budaya seperti ini? Kompetisi, dan kompetisi berarti harus ada yang kalah dan harus ada yang menang. Budaya kompetisi membuat keserakahan kita meningkat. Laki-laki tidak boleh dikendalikan oleh perempuan, maka perempuan harus dikekang. Kekayaan kita tidak boleh diambil oleh orang lain karena itu kita harus melakukan segala cara untuk melindungi sumber kekayaan, jangan lupa kekayaan kita juga harus meningkat.
Ketika sudah berpikiran seperti itu maka kebencian akan timbul. Tentu, karena sekarang kita punya “musuh” tak lain adalah si “yang lain” itu. Dia tidak boleh berkembang, kita harus melakukan segala macam upaya untuk menghentikan “dia”.
Akhirnya karena segala macam cara yang kita upayakan itu, kita jadi membuat kita harus melupakan apa yang sebenarnya kita cari, apa sebenarnya tujuan kita melakukan semua ini. Ketika budaya kompetisi mendesak maka ketidaktahuan kita makin menjadi-jadi, yah lihatlah George Bush yang sudah tidak tahu apa arti perdamaian dan perang. Keduanya disamakan, dan saya yakin bukan cuma beliau yang menjadi tidak tahu seperti itu. Kita juga. Kita sudah tidak bisa membedakan yang mana cinta dan sex, kebahagiaan dan kekayaan, intelektualitas dan spiritualitas. Kita bingung. Kita mencari kebahagiaan, kita berpikir bahwa kebahagiaan bisa kita beli dengan pergi ke diskotik, belanja sebanyak-banyaknya, mengkonsumsi obat bius. Kita lupa cara kita bernafas, tersenyum, menolong tanpa pamrih, dan menghargai kehidupan. Dunia seperti inikah yang kita inginkan?
Jika orang ramai mempraktekkan budaya kompetisi tersebut, maka pertanyaannya bisakah kita hidup lepas dari budaya tersebut dan memulai budaya baru? Jawabnya tegas: Bisa! Budaya baru yang saling menolong, mendengar lebih dalam, tidak mengeksploitasi, tanpa kekerasan, tidak membuat musuh atau “yang lain”, bersahabat dengan alam, berbagi dengan sesama bisa kita praktekkan.
Selalu ada yang mengatakan bahwa itu hanyalah utopia, khayalan dan tidak mungkin budaya seperti itu bisa tercipta. Namun lupakah kita bahwa kita telah dibuat tidak mempercayai budaya yang lebih sehat karena kita telah lama hidup di tengah-tengah budaya yang mengutamakan keserakahan, kebencian, dan berakibat ketidaktahuan, kebingungan, dan tidak bisa lagi membedakan baik dan buruk?
Maka selalu saja ada orang yang berjuang untuk keadilan dan kehidupan yang lebih baik. Mereka-mereka inilah yang memperlambat kehancuran bumi kita, memperlambat karena belum semua penduduk bumi yang memiliki “kesadaran” plus mau bekerja sama. Mereka yang berjuang untuk perbaikan pun harus tidak boleh terjebak dalam budaya kebencian, keserakahan, dan ketidaktahuan tersebut. Mereka harus selalu berkomitmen pada tindakan tanpa kekerasan, tidak dikuasai kebencian sehingga kelak tidak memperlakukan mereka yang membenci dengan kekerasan, mengembangkan kekuatan cinta kasih, dan selalu meningkatkan “kesadaran” di dalam diri sendiri untuk meningkatkan “kesadaran” mereka di sekitar kita.
Saya yakin kita bisa mengubah dunia dengan memulai dari hal-hal kelihatannya sepele.
Pasti :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar